Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, September 24

Langkah Awal Memimpin Dunia

Catatan Dahlan Iskan dalam bentuk email yang di posting beberapa bulan yang lalu, sangat relevan untukdi renungkan mendalam.

Senin, 19 Juni 2006
Email dari Tiongkok

Ini soal serius yang kurang mendapatkan perhatian dunia luar. Saya melihat Tiongkok benar-benar akan tampil sebagai pemimpin dunia. Tapi, dari jurusan mana Tiongkok akan memulai memimpin dunia?

Ada pertemuan penting di Shanghai akhir pekan lalu. Memang, dunia internasi onal tidak terlalu memberikan perhatian, namun saya mencatatnya sebagai pertemuan yang akan dipakai Tiongkok sebagai langkah awal untuk memimpin dunia. Memang masih agak jauh. Juga, masih akan banyak persyaratan yang menyertainya. Tapi, bibitnya sudah ditanam di situ.

Saking pentingnya pertemuan tersebut, hingga Shanghai diliburkan lima hari. Sekolah, kantor, serta perusahaan diliburkan agar konsentrasi pertemuan tidak akan terganggu sekecil kerikil pun. Dalam pertemuan itu, 10 kepala negara hadir. Termasuk, presiden Rusia dan Iran. Dalam acara gala-night-nya (disiarkan langsung CCTV), glamor dan kepemimpinan Tiongkok terlihat dalam forum tersebut. Sebuah kepemimpinan yang sangat toleran terhadap anggotanya.

Apakah akan lewat kepemimpinan yang toleran itu Tiongkok bakal diterima sebagai pemimpin baru dunia? Menggantikan kepemimpinan ganda (AS-Soviet) pada masa lalu yang penuh ketegangan? Atau, kepemimpinan Non-Blok yang amat lemah? Atau, kepemimpinan AS sekarang yang dinilai amat arogan dan tidak toleran?

Dalam pertemuan Shanghai, toleransi itu terlihat mencolok. Atraksi-atraksinya, misalnya, datang dari 10 negara dengan aneka keberagamannya. Bahkan, hotel yang ditempati para pemimpin negara yang Islam disiapkan secara khusus. Bahkan agak berlebihan karena Islam tidak seketat itu. Misalnya, sampai semua lukisan dan gambar binatang disingkirkan dari hotel mereka.

Semua pelayanan hotel diganti laki-laki. Padahal, yang diperlukan sebenarnya hanya cukuplah kalau makanannya halal dan fasilitas salat. Tapi, tampaknya, Tiongkok tidak hanya melihatnya dari segi hukum agama, namun juga budaya setempat.

Nama pertemuan itu pun tidak "wah" untuk menunjukkan kerendahan hati sang calon pemimpin. Tidak seperti APEC atau NATO atau ASEAN, forum itu hanya disebut "Shanghai Cooperation Organization" (Organisasi Kerja Sama Shanghai). SCO diadakan lima tahun lalu untuk menyikapi terpecah-belahnya Uni Soviet menjadi banyak negara. Padahal, Tiongkok mempunyai perjanjian tertentu dengan Soviet. Lalu, bagaimana nasib perjanjian kerja sama itu setelah tidak ada lagi Soviet?

Maka, dibentuklah SCO. Anggotanya enam negara. Yakni, para eks Negara Soviet yang berbatasan dengan Tiongkok: Rusia, Kazakstan, Tajikistan, Kirgistan, dan Mongolia. Tapi, pada ulang tahunnya yang kelima minggu lalu, sudah hadir empat negara lain yang akan bergabung di dalamnya: India, Iran, Afghanistan, dan Pakistan.

Kalau organisasi tersebut kuat, mulailah Asia memimpin dunia karena ada Tiongkok, Rusia, dan India di dalamnya. Tiga negara yang belakangan mengalami kemajuan pembangunan luar biasa. Tiga negara itu saja sudah bisa mengimbangi AS dan Eropa Barat. Ditambah anggota lainnya, kuatlah sudah posisi organisasi tersebut dengan Tiongkok di tengahnya.

Organisasi itu juga akan lebih konkret dalam membahas topik-topik khusus. Bukan saja mereka sedaratan, namun secara ekonomi akan saling mendukung. Tidak seperti APEC yang terlihat penting tapi sangat cair. Atau, ASEAN yang hanya gabungan negara-negara kurang mampu. Atau, organisasi negara-negara Asia Selatan yang keropos.

Maka, ASEAN harus mulai melihat kenyataan baru ini. Apalagi kalau negara seperti Vietnam, Korea, dan Thailand juga akan lebih tertarik aktif di sini. Apalagi yang akan dicapai ASEAN?

Tentu, masih akan banyak persyaratan agar organisasi SCO tersebut menjadi kekuatan nyata. Misalnya, apakah tidak ada usaha dari luar untuk memecah-belahnya? Atau, apakah kualitas pemimpin Tiongkok mampu sekaligus menjadi pemimpin mereka? Atau, apakah Rusia akan lebih tertarik ke organisasi itu atau ke organisasi Eropa Barat?

Yang jelas, Tiongkok telah menyiapkan diri untuk itu. Pertemuan APEC di Shanghai tiga tahun lalu, misalnya, tidak disiapkan seserius SCO ini. Libur lima hari di Shanghai benar-benar istimewa. Sampai-sampai, sekolah dan perusahaan harus masuk pada Sabtu dan Minggu pekan sebelumnya untuk "mengganti" agar libur lima hari ini tidak merugikan mereka. Sabtu depan, mereka juga tidak boleh libur untuk menambah "hari pengganti" libur lima hari itu.

Rabu, Agustus 11

PENGHARAPAN MEMBUAT HIDUP LEBIH BERARTI II


Lantas, timbul pertanyaan bagaimana cara kita mewujudkan harapan dalam hidup kita sehari-hari? Perkenankanlah saya membagikan beberapa poin penting sebagai bahan perenungan buat kita semua.
•  Harapan sejati datang dari sikap berserah kepada Tuhan.
Kitab Suci mengingatkan kita akan pentingnya sikap mengandalkan Tuhan, "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah tandus di padang gurun, di negeri padang asing yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah."
Saya banyak mengamati orang-orang yang dalam hidup ini yang mengaku beriman namun pada kenyataan lebih bersifat memaksa Tuhan. Jika ia menginginkan sesuatu, ia terus memaksakan diri agar hal tersebut bisa diraihnya, meski di sisi lain ia terkadang mengorbankan hal tertentu. Misalnya, seorang ayah yang merintis karir dengan penuh ambisi dan menghalalkan segala cara. Dalam waktu singkat karirnya begitu cemerlang namun ia begitu dibenci banyak orang di kantornya dan kehilangan keharmonisan dengan istri dan anaknya lantaran jarang berada di rumah. Tidak heran jika seorang teman pernah memberikan saya sebuah rumus sederhana namun penuh makna, yaitu:
Ambisi + Kompetensi - Nilai (Spiritual) = Kehancuran.
Ada juga orang yang begitu mengagung-agungkan kekuatan pikiran (brain power) sehingga pikiran dianggap seperti Tuhan alias menuhankan pikiran. Saya pernah berdiskusi dengan seorang pakar brain power dan bertanya kepadanya apakah dengan kekuatan pikiran ia bisa merancang anak keempatnya laki-laki mengingat ketiga anaknya perempuan. Dengan penuh kerendahan hati ia menjawab, "Tentu tidak bisa, Pak! Kita harus tahu bahwa kekuatan pikiran itu ada batasnya dan kita harus sadar ada faktor X, yaitu Tuhan."
Dalam sebuah seminar, saya pernah memperlihatkan kepada para peserta foto anak saya ketika koma di ICU dengan kabel-kabel di sekujur tubuhnya. Saya kemudian bertanya, "Apakah dalam keadaan seperti ini, Anda masih bisa mengandalkan kekuatan pikiran dan melakukan berbagai afirmasi?"
Guru spiritual, Y.Sutiman berkata, "Iman artinya menyerahkan segalanya kepada kehendak Tuhan dan tidak memaksa. Dengan menyerahkan segalanya kepada kehendak Tuhan, seseorang akan merasakan damai sejahtera. Sebaliknya, jika ia memaksa, hatinya tidak akan pernah tenang."
Sepasang suami istri yang telah empat tahun menikah dan belum dikaruniai anak serta sang istri yang telah divonis mandul memberikan kesaksian, "Kami tetap berharap bisa memiliki anak namun kami tidak mau memaksa Tuhan. Diberikan kami bersyukur. Tidak diberikan, kami tetap bersyukur." Siapa yang menyangka di usia pernikahan yang kelima sang istri hamil.
Disadari atau tidak, semua yang kita miliki dalam hidup ini (harta benda, materi, istri, anak bahkan baju yang sedang kita pakai saat ini) adalah titipan yang tidak akan kita bawa ketika kita berpulang. Jika kita belum mendapatkan titipan tersebut hendaklah kita tidak kecil hati. Sebaliknya, bersyukurlah atas berbagai titipan lainnya yang telah kita terima.
Saya meyakini bahwa Tuhan akan selalu menjawab doa umat-Nya. Hanya Ia menjawab dengan caranya yang terkadang tidak bisa kita pahami. Terkadang, Ia menjawab "Ya" dan memberikan apa yang kita minta. Terkadang, Ia menjawab "Tidak" dan Ia akan memberikan yang terbaik menurut-Nya. Sayangnya, terkadang kita kurang peka akan sinyal-sinyal Ilahi yang berkata "Tidak" lalu mencoba mewujudkan semuanya itu dengan cara kita sendiri. Alhasil, hati kita menjadi tidak tenang meski impian tersebut telah kita raih, bahkan bisa jadi kita kehilangan kebahagiaan dalam hidup ini. Sungguh ironis!
Terkadang, Tuhan akan menjawab doa kita dengan kata "Tunggu." Inilah sering sekali saya alami dan saya tahu kalau Ia berkata "Tunggu", Ia akan membuat semuanya indah pada waktunya.
• Harapan sifatnya bisa naik - turun.
Ibarat gelombang laut yang ada pasang - surut, begitu juga harapan dalam hidup manusia. Bagaimana mempertahankan atau meningkatkan harapan dalam hidup? Ada beberapa hal sederhana yang sebetulnya bisa kita lakukan. Misalnya, bergaullah dengan orang-orang yang berpengharapan. Seorang teman yang aktif di sebuah bisnis jaringan berkata, "Saya menyukai bisnis ini karena saya selalu bisa berkumpul dan berada di tengah-tengah orang yang penuh semangat dan positif. Mereka tidak mudah mengeluh dan tidak mudah menyerah sekalipun keadaan sedang memburuk."
Disadari atau tidak, orang-orang di sekitar kita dapat menjadi faktor plus (+), faktor minus (-), faktor pembagi (:) atau faktor pengali (x).
Faktor plus artinya mereka memberikan nilai tambah bagi hidup kita sehingga hidup kita semakin baik.
Faktor minus artinya mereka mengurangi sesuatu dalam hidup kita (bisa jadi kebahagiaan kita atau apa pun yang kita miliki).
Faktor pembagi artinya mereka bisa membagi atau menghancurkan kita, atau setidaknya membuat kita tidak fokus dalam memperjuangkan masa depan (perhatian kita terbagi-bagi alias terpecah-pecah karena ulah mereka).
Sedangkan faktor pengali artinya mereka bisa membuat kita melejit secara cepat atau memuluskan langkah kita dalam meraih sesuatu.
Selain bergaul dengan orang yang berpengharapan, kita juga perlu memasukkan ke dalam pikiran dan hati kita, hal-hal yang berpengharapan, seperti rajin berdoa dan membaca Kitab Suci juga membaca buku-buku positif lainnya.
•  Lakukan bagian kita dan berserah penuh pada Tuhan.
Dalam buku Reach Your Maximum Potential, saya menulis agar sesuatu terjadi, ada bagian yang harus kita lakukan dan ada bagian yang tidak bisa (dan tidak harus kita lakukan) karena hanya Tuhanlah yang bisa melakukannya. Ada faktor manusia (human factor) dan ada faktor Tuhan (God factor). Keduanya harus bekerja sama. "Without God, we can not," itu namanya human factor. Sedangkan God factor berbunyi, "Without us, God will not."
Terkadang kita belum berusaha secara maksimal dan langsung putus asa. Masih ingatkah kita semboyan bahwa pahlawan berjuang sampai titik darah penghabisan? Tentu perjuangan itu tidak mudah sebab diperlukan banyak sekali pengorbanan. Ingatlah, jalan menuju puncak selalu menanjak! Mereka yang berhasil mencapai puncak sangatlah sedikit dan mereka adalah orang-orang yang terus berjalan sementara yang lain sama sekali tidak bersedia mendaki (dan tetap berada di dasar gunung),  sebagian lagi memulai pendakian dan berhenti di tengah jalan. Ada juga yang memutuskan untuk turun dengan berbagai alasan.
Seorang sahabat pernah berkata kepada saya, "Ketika saya memulai sebuah karya, saya telah memiliki gambaran mengenai hasil akhir yang ingin saya raih. Kemudian, saya melangkah dan menjalani satu per satu proses yang ada dengan penuh ketekunan dan kesabaran. Semakin hari saya akan semakin mendekati hasil akhir dan perjalanan saya akan terasa lebih ringan ketika saya mempersembahkan seluruhnya demi kemuliaan nama Tuhan. Saya tidak terlalu peduli apakah saya akan mendapat pujian atau terkenal karena karya tersebut sebab saya tahu semuanya itu adalah karya Tuhan melalui hidup saya..."

Dikutip dari sebuah Renungan Harian

PENGHARAPAN MEMBUAT HIDUP LEBIH BERARTI I

Seorang anak autis naik ke puncak gedung berlantai tiga di Thailand. Ibunya panik saat ia berdiri di atas pagar pembatas. Nyaris terjatuh. Makin didekati, ia makin menjauh. Tiba-tiba ibunya ingat bahwa anak itu menyukai tokoh Spiderman. Maka, dimintanya petugas pemadam kebakaran mendekatinya dengan memakai kostum superhero itu. Hasilnya? Begitu "Spiderman" muncul memanggil namanya, si anak mendekat. Ia merasa aman dan bangga dilindungi "Spiderman", superhero andalannya.
Ketika Yusuf memerintah sebagai Raja Mesir, ia menjadi superhero bagi sanak keluarganya. Di bawah kuasanya, mereka bisa menikmati hidup makmur di Mesir. Padahal mereka berstatus orang asing. Tidak ada penduduk Mesir berani protes. Namun, kuasa Yusuf tidak kekal. Ia bukan superhero sejati. Di usia ke-110, ia sadar ajalnya hampir sampai. Maka, Yusuf mengingatkan saudara-saudaranya agar tidak mengandalkan dirinya. "Aku akan mati, " jelasnya, "Allahlah yang akan memperhatikan dan membawamu ke negeri Perjanjian." Hanya Allah Superhero sejati. Kepada-Nyalah keluarga Yusuf harus menaruh harapan.Banyak orang mencari superhero. Anak mendambakan figur ayah yang kuat. Perempuan mencari suami yang bisa melindungi. Pengusaha mencari orang kuat untuk menjaga usahanya. Rakyat mencari pemimpin yang bisa menjamin keamanan dan kemakmuran. Jika Anda menjadikan orang lain atau diri sendiri sebagai superhero, berhati-hatilah! Anda pasti kecewa, sebab tak ada orang yang serba bisa. Tak seorang pun bisa menjadi superhero asli! Lebih baik andalkan Tuhan, Sang Superhero sejati. /JTI

Dikutip dari sebuah Renungan Harian