Tampilkan postingan dengan label Tabung Gas 3Kg. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tabung Gas 3Kg. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Agustus 14

Si Melon.....


Program pemerintah mengonversi konsumsi rumah tangga dari minyak tanah (mitan) ke elpiji harus tetap dilanjutkan. Program ini telah menghemat Rp 12 triliun, sehingga biaya untuk subsidi minyak tanah bisa dialihkan untuk menyejahterakan rakyat.
“Saya mendukung pemerintah untuk terus melanjutkan program konversi minyak tanah ke elpiji 3 kg,” tegas anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Golkar Azwir Daini Tara, di Jakarta, Rabu (28/7).
Milton Pakpahan, anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat meluruskan “Si Melon” sebutan akrab tabung elpiji 3 kg itu disebut bom. Faktanya elpiji 3 kg hingga kini masih tetap dipakai tiap hari oleh masyarakat. Masalahnya memang perlu kehati-hatian dalam penggunaan elpiji ini agar tetap aman.
Untuk itu adanya wacana untuk membatalkan program Konversi Minyak Tanah ke Elpiji 3 kg itu tidak masuk akal
Ibu rumah tangga Rosmawati warga Cipete, Jakarta Selatan sudah empat tahun menggunakan elpiji 3 kg. Sejak 2007 menggunakan “Si Melon” hingga kini tak pernah mengalami kendala apa pun. Ia bersyukur karena tabung dan asesoris yang ia gunakan tak pernah mengalami gangguan. Tak ada kebocoran. “Alhamdulillah selama ini aman-aman saja,” jelas Rosmawati.
Rosmawati memang sempat ketakutan dengan pemberitaan insiden elpiji yang marak belakangan ini. Namun, ia tak mau berpaling dari “Si Melon”. Ia banyak mendapat keuntungan bila menggunakan elpiji 3 kg. “Memasak jauh lebih cepat bila dibanding dengan menggunakan minyak tanah,” tambah Rosmawati.
Bagi Rosmawati, yang penting hati-hati dan waspada ketika akan menggunakan elpiji. Sikap hati-hati ini diperlukan, karena dari hasil penelitian Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor), Markas Besar Polisi Republik Indonesia (Mabes Polri) terhadap ledakan elpiji di berbagai daerah, tak ada satupun yang disebabkan oleh ledakan tabung. Umumnya, kejadian itu disebabkan adanya akumulasi gas akibat kebocoran pada selang dan regulator.
Kabareskrim Mabes Polri Komisaris Jenderal Ito Sumardi menyarankan kepada masyarakat untuk teliti dalam menggunakan elpiji 3 kg. Aspek Human error ikut mempengaruhi terjadinya insiden. “Jadi harus teliti dan hati-hati,” tegasnya dalam dengar pendapat Komisi VII DPR.
Kabareskrim memastikan, hingga kini belum ditemukan insiden yang terjadi di berbagai daerah, karena tabung elpijinya meledak. Ito juga memastikan, insiden elpiji 3 kg itu murni kecelakaan, bukan karena rekayasa untuk mengeruhkan suasana. [ID/M-6]

Rabu, Agustus 11

Sosialisasi Penggunaan Gas Rumah Tangga

Kebijakan Pemerintah SBY-JK untuk mengganti konsumsi bahan bakar rumah tangga dari kayu api dan minyak menjadi gas adalah merupakan sebuah kebijakan penting dan strategis untuk percepatan kemajuan bangsa ini. Seperti kebijakan kebijakan lainnya yang pernah ada, baik oleh SBY-JK maupun oleh pemerintahan sebelumnya, disamping bertujuan untuk meningkatkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat di satu sisi, juga dalam tahap tahap awal penerapannya akan menimbulkan berbagai akibat sampingan. Akibat sampingan ini dapat berdampak baik, akan tetapi ada juga yang berdampak buruk. Tentu kita percaya, semua dampak ini, untuk ruginya sudah diperhitungkan oleh pemerintah.
Kebijakan ini adalah kebijakan dari pemerintah pertama hasil pilihan langsung oleh rakyat. Statistik mengatakan setiap hari ada 5 orang meninggal dunia karena kecelakaan lalul intas di Indonesia. Lantas, apakah karena kecelakaan ini pemerintah harus mengeluarkan peraturan pengurangan produksi kenderaan roda dua?. Kita semua tahu jawabannya bukan?    
Seperti di ingatkan di atas, tujuan jangka panjang dari kebijakan penggunaan Gas adalah untuk meningkatkan sebesar besarnya kemakmuran rakyat.
Kalau dalam tahap implementasinya terjadi berbagai kecelakaan yang menyebabkan timbulnya korban jiwa, kiranya bijaksana sekali apabila kita tidak terburu buru menyalahkan kebijakannya. Kita semua tahu, ada banyak faktor yang harus diperhatikan untuk mencari tahu dan mencegah timbulnya berbagai kecelakaan akibat penggunaan bahan bakar Gas. Jangankan bahan bakar Gas, obat nyamukpun bisa menimbulkan bahaya kebakaran besar, tapi tidak serta merta kita mengharapkan pemerintah mengeluarkan larangan penggunaan obat nyamuk bakar, iya kan?
Satu hal penting yang harus kita pahami bersama, tidak ada yang salah dalam kebijakan penggunaan bahan bakar Gas untuk rumah tangga, kebijakan ini baik adanya. Yang perlu kita perhatikan, sebagai PR bagi kita semua sesama rakyat Indonesia, LSM, Depkominfo, Peranan Wanita, Departemen Sosial adalah bagaimana men-sosialisasi-kan prosedur penggunaan bahan bakar Gas untuk rumah tangga bagi seluruh lapisan masyarakat umumnya, masyarakat kelas menengah ke bawah khususnya. 
Kita orang orang orang kota dan terdidik tentu sudah tahu, bahwa salah satu persyaratan untuk menggunakan bahan bakar Gas sebagai kebutuhan rumah tangga adalah adanya ruang masak (dapur) yang memiliki ventilasi yang cukup untuk keluar masuk udara. Kita orang orang orang kota dan terdidik tentu juga sudah tahu, bahwa pemasangan perangkat memasak rumah tangga dengan menggunakan bahan bakar Gas harus dilakukan dengan SOP yang ketat dan hati hati. Bagaimana dengan saudara saudara kita di pedesaan yang jumlahnya berpuluh bahkan beratus kali lipat dari kita yang ada di kota? Jangankan di pedesaan, kita tahu sendiri, sebagian besar warga perkotaan kita juga belum mengetahui persyaratan dan prosedur penggunaan Gas sebagai bahan bakar rumah tangga. Siapa yang bertugas untuk mensosialisasikan persyaratan dan prosedur penggunaan bahan bakar Gas untuk rumah tangga ini? Jawaban tentu sederhana, ya Pemerintah dong. Iya kan?? Jawaban itu tidak salah, memang tanggung jawab pemerintah.


Apakah kita kita yang dmendapat karunia dan berkat dari Tuhan sebagai warga terdidik, warga kelas atas akan membiarkan pemerintah sendirian melaksanakan tugas ini sendirian?? Kita bangsa Indonesia adalah bangsa yang santun, berjiwa gotong royong. Kita bangsa Indonesia adalah bangsa yang setiap saat rela berbagi, berbagi apa saja, harta, tenaga, fikiran, lebih lebih pengetahuan. Iya kan!!
Saudara-saudaraku, diperlukan waktu, tenaga, fikiran dan biaya yang cukup besar untuk memberikan pembelajaran ini pada masyarakat kelas menengah ke bawah.
Waktu dan tenaga yang dimiliki oleh pemerintah sangat terbatas, sementara kehidupan dan cita cita kita untuk memakmurkan bangsa ini tidak boleh berhenti.  Mari kita hentikan polemik yang tidak berkesudahan, kita hentikan kritik mengkritik yang menghancurkan. Sabda Nabi yang kita junjung tinggi, "Sebaik-baiknya pengajaran adalah suri tauladan". Kita sebagai bagian dari bangsa ini, kita yang telah memutuskan dan memilih pemerintah kita, mari bergandeng tangan ("menunjukkan tauladan yang pantas pada sesama saudara kita yang baru saja bisa menikmati Gas") bagaimana seharusnya kita bersikap kepada pemerintah yang kita pilih sendiri, pemerintah bangsa kita, bangsa Indonesia, dengan membantu pemerintah untuk memberikan "sosialisasi" penggunaan bahan bakar gas untuk rumah tangga kepada saudara saudara kita sebangsa yang membutuhkan informasi ini untuk dapat bersama sama maju dengan kita. Saudara saudaraku, di bulan ramadhan yang suci ini, spontanitas dan semangat kita untuk me-masyarakat-kan program penggunaan bahan bakar gas untuk rumah tangga ini akan menjadi tauladan yang indah, akan menggerakkan bangsa ini menuju kehidupan yang lebih baik, akan dilihat dan dibaca oleh bangsa lain, bangsa bangsa tetangga kita. Mereka akan hormat dan mengagumi rasa kebersamaan kita , rasa nasionalisme yang kita tunjukkan melalui dukungan ini.

Prosedur dan Standar Penggunaan Gas Rumah Tangga

Program Pemerintah untuk konversi minyak tanah menjadi gas untuk konsumsi masyarakat belakangan ini banyak menghadapi kendala. Sesungguhnya tidak ada yang salah dengan kebijakan pemerintah ini. Sebaliknya, kebijakan ini bertujuan mengarahkan dan membawa rakyat kita menuju tahapan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Yang menjadi masalah adalah kurangnya informasi bagi masyarakat luas tentang apa dan bagaimana menggunakan Gas dalam kehidupan sehari hari. Kecelakaan penggunaan Gas yang terjadi belakangan ini bukan karena Gas itu sendiri, akan tetapi lebih disebabkan karena : Pertama, belum dipenuhinya persyaratan persyaratan tertentu dalam menggunakan Gas sebagai bahan bakar rumah tangga, kedua :  kesalahan dalam prosedur penggunaan.

Ada dua persyaratan utama yang harus dipenuhi untuk menggunakan Gas sebagai bahan bakar rumah tangga yaitu pertama, Tabung Gas harus diletakkan dalam posisi yang cukup jauh (aman) dari kompor dan yang kedua, ruang di mana Kompor dan Tabung Gas berada (Dapur) harus memiliki ventilasi yang cukup sehingga udara luar dapat dengan leluasa keluar masuk ruangan. Persyaratan ini mutlak harus dipenuhi.

Kesalahan dalam prosedur penggunaan  adalah penyebab utama terjadinya kecelakaan (kebakaran). dalam penggunaan bahan bakar Gas untuk kebutuhan rumah tangga. Disamping persyaratan ruangan yang kurang memadai, kesalahan prosedur terjadi dalam pemasangan komponen-komponen kompor Gas. Komponen Kompor Gas terdiri dari Kompor dan Tabung Gas. Tabung Gas terdiri dari Tabung, Regulator, Selang Gas. Lihat gambar berikut.

Sebelum digunakan, harus dipastikan bahwa seluruh komponen di atas telah terpasang dengan baik dan benar (menggunakan cincin pengikat yang baik).  Pastikan juga bahwa seluruh komponen tersebut memiliki logo SNI sebagai bukti bahwa komponen komponen tersebut telah lulus pengujian. 

Bila kedua kondisi di atas sudah terpenuhi, kompor sudah siap digunakan.untuk kebutuhan sehari hari rumah tangga. Untuk lebih meningkatkan keamanan penggunaan Gas, disarankan menggunakan Breket pengikat Regulator. Breket pengikat ini berfungsi untuk menjaga Regulator agar tetap terikat dengan baik pada Katup Tabung Baja. Selama  Regulator tetap terikat dengan baik pada Katup Tabung Baja, Gas aman dipakai. Memang Breket ini sifatnya additional, akan tetapi pemakaiannya akan memberikan keamanan dan kenyamanan yang tinggi bagi pemakainya. Seperti gambar berikut :
Breket pengikat regulator diproduksi dalam berbagai rancangan dan dapat dibeli di pasar. Harganya juga relatif murah dan bervariasi, sekitar RP. 25.000,- sampai RP. 40.000,- per buah. Selamat mecoba.